Dalam medan bencana yang kompleks dan berbahaya, keberhasilan operasi penyelamatan sering kali bergantung pada kesatuan antara keterampilan teknis pencarian dan pertolongan (SAR) dan kecepatan intervensi medis. Palang Merah Indonesia (PMI) telah mengembangkan apa yang dapat disebut sebagai ‘senjata rahasia’: sebuah tim multidisiplin yang mahir dalam Menggabungkan Pengalaman SAR dengan taktik medis cepat. Konsep ini menjamin bahwa begitu korban ditemukan di reruntuhan, stabilisasi dan perawatan kritis dapat dimulai seketika, mengurangi response time yang sangat berharga.
Filosofi Menggabungkan Pengalaman SAR ini didasarkan pada pemahaman bahwa di area reruntuhan, evakuasi dan perawatan harus berjalan simultan. Relawan yang pertama kali mencapai korban—seringkali adalah petugas SAR—kini dilatih tidak hanya untuk mengamankan dan mengeluarkan korban (extrication), tetapi juga untuk memberikan pertolongan pertama tingkat lanjut. Ini menghilangkan penundaan kritis yang terjadi saat tim SAR harus menunggu tim medis mencapai lokasi yang sama-sama berbahaya.
Sebagai contoh, pada hari Kamis, 14 November 2024, dalam operasi tanggap darurat pasca-longsor di kawasan perbukitan Jawa Barat, PMI mengerahkan Tim Respon Cepat yang mengimplementasikan metode ini. Longsor telah mengisolasi beberapa warga dan menyebabkan trauma fisik serius. Koordinator Lapangan PMI, Bapak Hadi Wibowo, memimpin tim yang terdiri dari spesialis vertical rescue dan paramedis. Ketika tim SAR menemukan seorang korban yang terjebak dengan cedera patah tulang terbuka, tim medis yang ikut serta tidak menunggu evakuasi penuh.
Menggabungkan Pengalaman SAR berarti relawan medis dilatih menggunakan tali dan peralatan rigging untuk mencapai lokasi korban, sementara relawan SAR dilatih untuk melakukan triase di medan ekstrem. Setelah korban berhasil diakses oleh tim, stabilisasi tulang belakang (terutama leher) dan kontrol perdarahan masif (bleeding control) dilakukan segera, bahkan sebelum korban dapat dikeluarkan dari jepitan reruntuhan. Pendekatan scoop and run tradisional kini diganti dengan stay and play (stabilisasi di tempat), jika kondisi lingkungan memungkinkan, untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup korban dengan cedera kritis.
Selama operasi di Jawa Barat tersebut, tim SAR medis ini berhasil menstabilkan tiga korban yang terjebak dalam kurun waktu 4 jam. Dua di antaranya mengalami fraktur multipel dan satu mengalami crush injury yang parah. Setelah stabilisasi dilakukan, proses pengeluaran dan pemindahan korban dari lokasi tebing curam dilakukan dengan menggunakan tandu khusus dan sistem tali temali yang telah diajarkan dalam Menggabungkan Pengalaman SAR teknis.
Selain itu, PMI bekerja sama erat dengan otoritas keamanan. Komandan Posko Gabungan, yang termasuk di dalamnya Kapolsek setempat, AKP Muhammad Faisal, mengalokasikan personel Polsek untuk mengamankan zona perimeter pada pukul 10.00 WIB untuk memastikan tidak ada gangguan saat tim SAR PMI melakukan penyelamatan vertikal. Sinergi ini menjamin efisiensi taktis dan keamanan operasional yang tinggi.
Dengan Menggabungkan Pengalaman SAR dan keahlian medis cepat, PMI tidak hanya mempercepat proses penyelamatan tetapi juga meningkatkan kualitas perawatan yang diterima korban di menit-menit emas pertama. Ini adalah inti dari kemanusiaan yang terorganisir dan terampil.