Dunia pendidikan merupakan persemaian utama bagi nilai-nilai toleransi dan persatuan bangsa. Namun, di tengah keberagaman yang sangat tinggi, tantangan berupa perundungan berbasis ras atau etnis terkadang masih muncul di lingkungan sekolah. Menanggapi fenomena ini, Palang Merah Indonesia di Kota Pahlawan meluncurkan sebuah gerakan edukatif yang inspiratif bertajuk Sekolah Tanpa Sekat. Inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang benar-benar inklusif, di mana setiap siswa merasa aman, dihargai, dan diterima tanpa memandang latar belakang asal-usul, warna kulit, maupun ciri fisik lainnya.
Inti dari gerakan ini adalah pelaksanaan Kampanye Anti-Rasisme yang masuk langsung ke dalam ruang-ruang kelas. Relawan PMI bekerja sama dengan pihak sekolah untuk menyelenggarakan workshop interaktif, diskusi kelompok, dan permainan simulasi yang membuka wawasan siswa tentang bahaya prasangka. Seringkali, perilaku rasis muncul bukan karena kebencian yang mendalam, melainkan karena kurangnya literasi dan paparan terhadap keberagaman. Dengan membawa semangat kemanusiaan universal, PMI mengajarkan bahwa di bawah kulit yang berbeda, kita semua memiliki darah yang sama merahnya—sebuah filosofi dasar yang menjadi identitas organisasi ini sejak lama.
Kegiatan yang dilakukan oleh PMI Surabaya ini juga melibatkan para guru dan orang tua murid sebagai mitra strategis. Pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada pihak sekolah semata, melainkan harus dimulai dari lingkungan rumah. Melalui materi-materi kreatif, siswa diajarkan untuk mengenali bentuk-bentuk diskriminasi yang halus hingga yang kasar. Kampanye ini menekankan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan. Di dalam Di Kelas, siswa didorong untuk berkolaborasi dalam proyek-proyek kelompok yang mencampurkan latar belakang berbeda, sehingga tercipta ikatan persaudaraan yang organik sejak usia dini.
Selain diskusi, program ini juga memanfaatkan media digital sebagai sarana penyebaran pesan perdamaian. Kompetisi pembuatan konten kreatif bertema toleransi diadakan untuk memicu minat generasi Z dan generasi Alpha dalam menyuarakan semangat inklusivitas. Surabaya, sebagai kota metropolitan yang dihuni oleh berbagai macam etnis, menjadi laboratorium sosial yang sangat tepat untuk menanamkan nilai-nilai ini. Keberhasilan kampanye ini diukur dari menurunnya laporan kasus perundungan dan meningkatnya partisipasi aktif siswa dalam kegiatan sosial lintas komunitas. Budaya saling menghormati perlahan menjadi identitas baru di sekolah-sekolah yang terlibat.