Meskipun terlihat sederhana, cuci tangan dengan sabun adalah intervensi kesehatan publik yang paling efektif dan hemat biaya dalam mencegah penyebaran berbagai penyakit menular, mulai dari diare hingga infeksi pernapasan akut (ISPA). Kesadaran akan praktik higienis ini, terutama di tingkat komunitas, adalah kunci. Oleh karena itu, Pentingnya Cuci Tangan: Kampanye PMI di Sekolah dan Desa menjadi program berkelanjutan yang diinisiasi oleh Palang Merah Indonesia (PMI). Melalui Kampanye PMI di Sekolah dan Desa, organisasi ini menanamkan kesadaran akan Pentingnya Cuci Tangan menggunakan metode edukasi yang interaktif dan mudah dipahami, menjangkau segmen masyarakat yang paling rentan, yaitu anak-anak dan komunitas dengan akses sanitasi terbatas.
Penguatan kebiasaan Pentingnya Cuci Tangan ini berfokus pada lima momen kritis, yaitu sebelum makan, setelah dari toilet, setelah memegang hewan, setelah batuk/bersin, dan sebelum menyiapkan makanan. PMI menggunakan pendekatan edukasi berbasis sekolah karena anak-anak dianggap sebagai agen perubahan yang efektif yang dapat membawa praktik baik ini ke lingkungan rumah mereka. Di Sekolah Dasar Negeri 05 Tani Mulya, misalnya, relawan PMI rutin mengadakan sesi simulasi cuci tangan setiap hari Senin, pukul 08:00 WIB, mengajarkan tujuh langkah cuci tangan yang benar, termasuk cara menggunakan air secukupnya.
Selain sekolah, Kampanye PMI di Sekolah dan Desa juga menargetkan komunitas di pedesaan, di mana akses terhadap air bersih dan sanitasi seringkali menjadi tantangan. Di Desa Harapan Jaya, PMI tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga membantu membangun fasilitas cuci tangan komunal sederhana (tippy tap) dan mendistribusikan sabun. Upaya ini merupakan bagian dari program Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) PMI yang bertujuan meningkatkan standar kesehatan lingkungan secara keseluruhan. Berdasarkan laporan internal PMI yang dirilis pada 14 Januari 2026, desa-desa yang menerima intervensi WASH dan edukasi PHBS menunjukkan penurunan kasus diare pada balita sebesar $30\%$ dalam kurun waktu enam bulan.
Keberhasilan kampanye ini didukung oleh sinergi lintas sektor. Puskesmas setempat berperan dalam pemantauan kesehatan, sementara aparat keamanan membantu dalam sosialisasi kedisiplinan. Kepala Kepolisian Sektor setempat, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Fitra Sanjaya, dalam kegiatan sosial bersama di desa pada 20 November 2025, menekankan pentingnya peran Bhabinkamtibmas dalam mendukung setiap program kesehatan masyarakat yang diinisiasi oleh PMI. Dengan demikian, Kampanye PMI di Sekolah dan Desa adalah investasi kesehatan publik jangka panjang yang fundamental.