Ketika kita berbicara tentang bencana, seringkali yang terlintas di benak adalah gempa bumi, banjir, atau letusan gunung berapi. Namun, Palang Merah Indonesia (PMI) juga memberikan perhatian serius pada bencana non-alam, seperti kebakaran dan kecelakaan lalu lintas. Pelatihan relawan PMI untuk menghadapi insiden-insiden ini dirancang khusus untuk membekali mereka dengan keterampilan yang berbeda namun sama vitalnya. Pelatihan relawan PMI ini mencakup teknik pertolongan pertama yang spesifik, manajemen evakuasi, dan koordinasi dengan pihak berwenang, memastikan respons yang cepat dan efektif. Pada hari Kamis, 18 September 2025, sebuah simulasi gabungan penanganan kecelakaan di jalan raya diadakan di kawasan Jakarta Selatan, melibatkan 75 relawan dan berbagai instansi terkait.
Salah satu fokus utama dalam pelatihan relawan PMI untuk bencana non-alam adalah penanganan korban trauma. Kecelakaan lalu lintas, misalnya, seringkali menyebabkan cedera serius seperti pendarahan hebat, patah tulang, dan cedera kepala. Relawan dilatih untuk melakukan pertolongan pertama yang tepat, seperti menghentikan pendarahan, memasang bidai, dan menstabilkan korban sebelum tim medis profesional tiba. Selain itu, mereka juga diajarkan teknik evakuasi korban dari dalam kendaraan yang ringsek dengan aman. Dalam kasus kebakaran, pelatihan berfokus pada teknik evakuasi, memadamkan api kecil menggunakan alat pemadam api ringan (APAR), dan memberikan pertolongan pertama bagi korban luka bakar.
Koordinasi dengan pihak lain, seperti kepolisian dan pemadam kebakaran, sangat ditekankan. Relawan PMI harus mampu bekerja sebagai bagian dari tim yang lebih besar, memahami peran dan tanggung jawab masing-masing. Seorang petugas pemadam kebakaran, Bapak Budi Kurniawan, dalam sebuah seminar pasca-simulasi pada 19 September 2025, menyampaikan apresiasinya, “Keberadaan relawan PMI yang terlatih sangat membantu kami di lapangan. Mereka bisa menangani korban awal sehingga kami bisa fokus pada pemadaman.” Laporan dari Polsek setempat pada hari Jumat, 19 September 2025, juga mencatat bahwa kehadiran relawan yang terampil dalam simulasi tersebut sangat memperlancar proses penanganan dan evakuasi.
Aspek lain dari pelatihan relawan PMI ini adalah pemahaman terhadap kondisi psikologis korban. Baik kecelakaan maupun kebakaran bisa sangat traumatis. Oleh karena itu, relawan juga dibekali dengan keterampilan Pertolongan Psikologis Awal (PPA) untuk menenangkan korban dan keluarga mereka. Dengan kesiapan, baik dari segi teknis maupun non-teknis, relawan PMI siap menjadi garda terdepan dalam setiap krisis, membuktikan bahwa kesiapsiagaan adalah kunci untuk menyelamatkan nyawa, baik dalam bencana alam maupun non-alam.