Pelopor Gerakan PMI: Figur Perintis Mendirikan Perhimpunan Bantuan Kemanusiaan di PMI Surabaya

Upaya mendirikan Palang Merah di Indonesia sudah muncul sejak tahun 1932, diprakarsai oleh Dr. R. C. L. Senduk dan Dr. Bahder Djohan. Mereka merancang konsep Perhimpunan Bantuan Kemanusiaan ini. Gagasan mulia ini menunjukkan kesadaran akan pentingnya organisasi netral yang siap sedia membantu tanpa diskriminasi.

Setelah Indonesia merdeka, momentum pendirian Palang Merah Nasional semakin kuat. Presiden Soekarno pada 3 September 1945 memerintahkan pembentukan badan ini. Ini adalah langkah krusial dalam mewujudkan sebuah organisasi yang berlandaskan kemanusiaan di tengah situasi pasca-proklamasi.

Panitia Lima, yang dibentuk pasca perintah Presiden, bekerja cepat merumuskan struktur organisasi. Tokoh-tokoh seperti Dr. R. Mochtar, Dr. Bahder Djohan, dan lainnya menjadi perintis utama. Mereka meletakkan fondasi bagi berdirinya organisasi Palang Merah Indonesia (PMI) yang sah.

Tepat pada 17 September 1945, PMI secara resmi terbentuk. Tanggal ini menjadi penanda bersejarah berdirinya perhimpunan nasional ini. PMI langsung mengambil peran penting dalam memberikan layanan di masa Perang Kemerdekaan, menegaskan komitmen kemanusiaan mereka.

Di Jawa Timur, Palang Merah Indonesia Daerah Jawa Timur berdiri pada tahun 1960. Komisaris pertama yang memimpin adalah dr. Angka Nitisastro. Pendirian di tingkat daerah ini memperluas jangkauan layanan Perhimpunan Bantuan Kemanusiaan tersebut ke masyarakat Surabaya dan sekitarnya.

Meskipun informasi spesifik tentang “figur perintis mendirikan PMI di Surabaya” secara individu tidak tersedia, pendirian PMI Jawa Timur di Surabaya adalah hasil perjuangan kolektif para tokoh lokal. Mereka melanjutkan visi besar PMI Pusat untuk menyediakan pertolongan kemanusiaan.

Peran para pendahulu PMI Surabaya adalah mengadaptasi semangat nasional ke konteks lokal. Mereka memastikan prinsip-prinsip dasar gerakan, seperti kenetralan dan kesamaan, diterapkan di Kota Pahlawan. Dedikasi ini membentuk karakter layanan kemanusiaan PMI Surabaya.

PMI Surabaya hingga kini terus berkembang, menjadi garda terdepan dalam penanggulangan bencana dan pelayanan darah. Warisan para figur perintis adalah semangat kerelawanan dan pengabdian tanpa pamrih. Mereka adalah teladan nyata dari aksi kemanusiaan yang tak lekang oleh waktu.

Para relawan dan pengurus PMI Surabaya saat ini adalah pewaris sah dari perjuangan para pendiri. Mereka menjaga amanah untuk selalu siap siaga meringankan penderitaan sesama. Melalui aksi nyata, Perhimpunan Bantuan Kemanusiaan ini terus menghidupkan nilai-nilai luhur.