Untuk menjawab tuntutan penanganan kegawatdaruratan medis yang semakin kompleks, Palang Merah Indonesia (PMI) secara konsisten melaksanakan Pelatihan Advance Level bagi para anggotanya. Program intensif ini bertujuan utama Meningkatkan Kapabilitas Relawan dalam memberikan pertolongan pertama tingkat lanjut dan dukungan hidup dasar di lapangan, terutama pada insiden kecelakaan masal, bencana alam, dan situasi krisis lainnya. Pelatihan ini menjadi standar baru dalam kesiapsiagaan PMI, memastikan bahwa setiap relawan yang terjun ke lapangan tidak hanya membawa semangat kemanusiaan, tetapi juga keahlian teknis yang teruji untuk menyelamatkan nyawa.
Kurikulum Pelatihan Advance Level dirancang secara komprehensif, mencakup materi seperti Basic Trauma Life Support (BTLS), Basic Cardiac Life Support (BCLS), dan teknik stabilisasi korban sebelum evakuasi. Pelatihan ini juga menguatkan keterampilan dalam triase, yaitu proses cepat penentuan prioritas penanganan korban di lokasi kejadian. Salah satu pelaksanaan pelatihan terbaru diadakan di Pusdiklat PMI Regional Jawa Timur, Kota Surabaya, selama lima hari penuh, mulai dari Senin, 21 Oktober 2024, hingga Jumat, 25 Oktober 2024. Kegiatan ini diikuti oleh 45 relawan terpilih dari 15 PMI Kabupaten/Kota di Jawa Timur yang sebelumnya telah lulus sertifikasi Pertolongan Pertama tingkat dasar.
Kepala Divisi Pelatihan dan Pengembangan SDM PMI Pusat, Dr. Rahmat Hidayat, M.Kes., menegaskan bahwa investasi dalam pelatihan merupakan kunci untuk Meningkatkan Kapabilitas Relawan. Dalam sambutannya di acara pembukaan, ia menyoroti bahwa relawan advance level ini diharapkan menjadi first responder yang mampu melakukan intervensi medis kritis di luar fasilitas rumah sakit. Pelatihan ini melibatkan instruktur bersertifikat dari berbagai latar belakang, termasuk dokter spesialis emergensi, perawat gawat darurat, dan tim medis spesialis dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), untuk memberikan perspektif yang holistik dalam penanganan bencana.
Uji coba praktik lapangan menjadi bagian penting untuk Meningkatkan Kapabilitas Relawan. Pada hari terakhir pelatihan di Surabaya, para peserta dihadapkan pada skenario simulasi gempa bumi yang melibatkan korban massal di sebuah reruntuhan bangunan. Dalam simulasi tersebut, relawan harus menerapkan protokol BTLS secara cepat, berkoordinasi dengan tim evakuasi yang disimulasikan sebagai Tim SAR Gabungan, dan memastikan setiap korban ditandai berdasarkan tingkat keparahan cederanya menggunakan sistem triase standar internasional. Penilaian terhadap kinerja mereka dilakukan secara ketat, mencakup kecepatan respons, akurasi diagnosis awal, dan teknik komunikasi yang digunakan.
Pelatihan ini juga berdampak pada kemampuan PMI dalam mendukung instansi lain. Relawan yang telah lulus Pelatihan Advance Level PMI seringkali diikutsertakan dalam operasi bersama dengan institusi keamanan. Misalnya, dalam pengamanan jalur mudik Lebaran 2025, relawan berkualifikasi advance ini ditempatkan di Posko Terpadu yang berlokasi di titik-titik rawan kecelakaan di jalur Pantura, bekerja sama dengan personel dari Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Batang. Keberadaan mereka memastikan bahwa penanganan awal kecelakaan lalu lintas dapat ditangani secara medis dengan maksimal sebelum korban dibawa ke rumah sakit. Dengan demikian, Meningkatkan Kapabilitas Relawan menjadi strategi jangka panjang PMI untuk memberikan pelayanan kemanusiaan yang semakin profesional dan efektif.