Di tengah puing-puing bencana, luka fisik seringkali terlihat jelas, namun kerusakan pada jiwa dan mental tak jarang terabaikan. Palang Merah Indonesia (PMI) memahami bahwa proses pemulihan sejati harus mencakup keduanya. Melalui program Dukungan Psikososial (DPD), PMI bekerja keras untuk Mengembalikan Harapan bagi para penyintas. Program ini bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang, melainkan sebuah intervensi terstruktur yang dirancang untuk menstabilkan kondisi psikologis korban bencana, membantu mereka memproses trauma, dan membangun kembali mekanisme coping yang sehat. Ini adalah kontribusi esensial yang memastikan pemulihan fisik berjalan seiring dengan pemulihan mental, meletakkan fondasi yang kokoh untuk kehidupan pasca-bencana.
Dampak psikologis dari bencana alam sering kali meluas dan bervariasi, mulai dari kecemasan akut, kesedihan mendalam, hingga gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Menyadari kompleksitas ini, Tim DPD PMI menerapkan strategi berlapis dalam memberikan layanan. Ambil contoh pasca-bencana banjir bandang yang melanda wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat, pada hari Minggu, 28 Juli 2024. PMI segera mendirikan pusat layanan DPD di Posko Pengungsian yang berlokasi di Gedung Serbaguna Kota Bima. Tim yang terdiri dari 15 relawan spesialis DPD, termasuk konselor dan psikolog, mulai beroperasi penuh pada Senin, 29 Juli 2024, pukul 09:00 WITA. Fokus awal mereka adalah pada Psychological First Aid (PFA) atau Pertolongan Pertama Psikologis, sebuah teknik intervensi dini yang bertujuan menenangkan dan menstabilkan individu dalam 72 jam pertama pasca-kejadian.
Selama periode tersebut, tim DPD mencatat bahwa dari 300 kepala keluarga yang mengungsi, sekitar 60% menunjukkan indikasi stres berat akibat kehilangan harta benda dan ketidakpastian masa depan. Berangkat dari data tersebut, program DPD kemudian beralih ke sesi konseling kelompok dan individu yang lebih mendalam, bertujuan untuk Mengembalikan Harapan dengan mendorong para penyintas berbagi pengalaman mereka dalam lingkungan yang aman dan mendukung. Sesi konseling kelompok untuk orang dewasa difokuskan pada pemulihan rasa kontrol diri dan perencanaan praktis untuk tahap rehabilitasi. Data kehadiran menunjukkan partisipasi rata-rata 40 orang per hari dalam sesi kelompok ini sepanjang minggu pertama Agustus 2024.
Selain itu, program ini bekerja secara sinergis dengan aspek penanggulangan bencana lainnya. Untuk menjamin kelancaran aktivitas di posko, Tim DPD berkoordinasi erat dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bima yang bertanggung jawab atas ketertiban dan keamanan. Koordinasi ini memastikan bahwa sesi-sesi DPD, khususnya untuk anak-anak, dapat berlangsung tanpa gangguan di area yang tenang dan kondusif. Koordinator Lapangan DPD PMI, Bapak Rizal Mustofa, menekankan bahwa kunci keberhasilan program ini adalah konsistensi dan adaptabilitas. Dengan memberikan ruang aman untuk berduka dan memvalidasi emosi, PMI membantu para penyintas secara bertahap Mengembalikan Harapan mereka, mengubah rasa putus asa menjadi motivasi untuk bangkit. Kontribusi Dukungan Psikologis PMI ini menjadi pilar penting dalam fase transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan jangka panjang, mempertegas bahwa keberadaan PMI tidak hanya sebatas bantuan fisik, tetapi juga penyelamat jiwa yang terluka. Upaya sistematis ini sangat vital untuk Mengembalikan Harapan dan membangun kembali ketahanan masyarakat secara utuh.