Edukasi di Tengah Bencana: Melanjutkan Pendidikan Anak-Anak di Pengungsian

Ketika bencana melanda, kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan kesehatan menjadi prioritas utama. Namun, ada satu aspek yang sering terlewatkan: pendidikan anak-anak. Palang Merah Indonesia (PMI) memahami bahwa proses belajar tidak boleh terhenti, bahkan di tengah situasi terburuk. Oleh karena itu, program Edukasi di Tengah Bencana menjadi bagian integral dari respons kemanusiaan. Tujuannya bukan hanya sekadar mengajar, melainkan juga memberikan rasa normalitas, harapan, dan dukungan psikososial kepada anak-anak yang mengalami trauma.

Pada tanggal 12 Juli 2025, setelah gempa bumi melanda wilayah pesisir di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, tim relawan PMI mendirikan dua “Sekolah Darurat” di lokasi pengungsian utama. Sekitar 150 anak-anak dari usia 6 hingga 12 tahun terdaftar dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar-mengajar. Dibantu oleh 5 relawan guru yang merupakan mantan pengajar di sekolah setempat, kegiatan ini berjalan enam hari dalam seminggu, mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Materi yang diajarkan tidak hanya terbatas pada pelajaran formal, tetapi juga mencakup kegiatan kreatif seperti menggambar, bercerita, dan permainan edukatif.

Program Edukasi di Tengah Bencana ini juga menjalin kerja sama erat dengan berbagai pihak. Pada hari Senin, 14 Juli 2025, Kepala Dinas Pendidikan setempat, Bapak Ridwan Syah, mengunjungi lokasi pengungsian untuk memastikan bahwa kurikulum darurat yang disiapkan relevan dengan kondisi anak-anak. Selain itu, pada hari Jumat, 18 Juli 2025, personel dari Kepolisian Sektor Linggo Sari Baganti turut serta dalam kegiatan outbond dan permainan yang bertujuan untuk membangun kembali semangat dan kepercayaan diri anak-anak. Kehadiran mereka memberikan rasa aman dan menunjukkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat.

Selain menyediakan kelas, PMI juga fokus pada kesehatan mental anak-anak. Edukasi di Tengah Bencana ini dilengkapi dengan sesi dukungan psikososial yang dipimpin oleh 3 relawan psikolog. Mereka secara rutin mengadakan sesi konseling kelompok dan individu untuk membantu anak-anak mengatasi kecemasan dan trauma akibat bencana. Kegiatan ini tidak hanya membantu pemulihan emosional, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung bagi mereka untuk kembali belajar dan berinteraksi.

Dengan demikian, PMI membuktikan bahwa pendidikan adalah investasi penting untuk masa depan, bahkan di saat yang paling sulit. Dengan memastikan anak-anak tetap memiliki akses ke pendidikan, PMI tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu mereka membangun kembali kehidupan dan impian mereka. Program ini menunjukkan bahwa sekolah tidak harus memiliki gedung mewah; yang terpenting adalah semangat untuk terus belajar dan dukungan dari komunitas. Kehadiran ruang belajar sementara ini adalah simbol ketahanan, bahwa bahkan di tengah kehancuran, harapan untuk masa depan yang lebih baik tetap ada.