Penanganan bencana tidak cukup hanya dengan respons cepat, tetapi juga memerlukan perencanaan yang matang, dimulai dari pencegahan. Palang Merah Indonesia (PMI) mengadopsi pendekatan holistik melalui analisis risiko sebagai langkah awal untuk merancang strategi mitigasi yang efektif. Pendekatan ini memungkinkan PMI untuk mengidentifikasi potensi ancaman dan kerentanan masyarakat, sehingga tindakan pencegahan yang dilakukan menjadi lebih tepat sasaran. Dengan adanya analisis risiko yang mendalam, PMI mampu mengubah ancaman menjadi peluang untuk membangun ketahanan komunitas yang lebih kuat dan terstruktur.
Salah satu implementasi nyata dari pendekatan ini terlihat pada 10 Mei 2025, ketika PMI Provinsi Jawa Barat melakukan survei di daerah pesisir yang rawan tsunami. Tim relawan, bekerja sama dengan ahli geologi dan petugas Kepolisian, mengumpulkan data mengenai ketinggian permukaan laut, kondisi geografi, serta kepadatan penduduk di wilayah tersebut. Dari hasil analisis risiko tersebut, mereka mengidentifikasi bahwa terdapat 5 desa yang memiliki tingkat kerentanan sangat tinggi. Berdasarkan temuan ini, PMI segera meluncurkan program edukasi dan pelatihan evakuasi yang disesuaikan dengan kondisi spesifik setiap desa, termasuk penentuan jalur evakuasi yang aman dan titik kumpul yang efektif.
Selain pemetaan geografis, PMI juga melakukan analisis terhadap kerentanan sosial dan ekonomi masyarakat. Pada 14 Juni 2024, PMI Kabupaten Semarang mengadakan workshop dengan fokus pada mitigasi banjir di bantaran Sungai Tuntang. Dari hasil diskusi dan survei awal, ditemukan bahwa kelompok lansia dan penyandang disabilitas adalah kelompok yang paling rentan. Menanggapi hal ini, PMI tidak hanya memberikan pelatihan umum, tetapi juga menyusun rencana evakuasi khusus untuk kelompok tersebut, termasuk melibatkan keluarga dan tetangga dalam sistem “buddy system”. Pendekatan ini memastikan bahwa tidak ada satu pun warga yang terlewatkan dalam rencana penanggulangan bencana, sejalan dengan prinsip kemanusiaan PMI yang menjangkau semua lapisan masyarakat.
Kolaborasi dengan berbagai pihak juga menjadi kunci dalam keberhasilan analisis risiko PMI. PMI bekerja sama erat dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah untuk berbagi data dan menyelaraskan program. Sinergi ini terlihat saat terjadi gempa bumi di Majene pada 15 Januari 2021, di mana data dari PMI mengenai kerusakan dan kebutuhan darurat di lapangan menjadi input penting bagi BNPB dalam menentukan prioritas penyaluran bantuan. Dengan pendekatan holistik yang memadukan analisis data, edukasi, dan kolaborasi, PMI terus berkomitmen untuk membangun masyarakat yang tidak hanya siap merespons, tetapi juga mampu mencegah dan memitigasi risiko bencana.